Sejarah Kerajaan Mataram Kuno, Peninggalan, Silsilah, dan Letaknya

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno, Peninggalan, Silsilah, dan Letaknya – Mataram kuno merupakan salah satu kerajaan besar di masanya. Dan, untuk memberikan pemahaman tentang kerajaan mataram kuno, berikut kami sajikan informasi yang meliputi sejarah kerajaan, peninggalan, serta berbagai informasi lainnya.

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno berdiri di Jawa Tengah, dan berpusat di lembah Kali Progo, yang meliputi daerah Magelang, Muntilan, Sleman, dan Yogyakarta. Kerajaan Mataram kuno beribukota di Medang Kamulan. Kerajaan ini pertama kali dibangun dan diperintah oleh Raja Sanjaya. Beliau adalah penganut agama Hindu.

Raja Sanjaya berhasil menaklukkan daerah – daerah sekitar Mataram Kuno, seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, bahkan dia juga memerangi Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu. Setelah Raja Sanjaya meninggal, pemerintahan Kerajaan Mataram digantikan oleh putranya, Panangkaran.

Pada masa pemerintahan Raja Panangkaran, pengaruh agama Buddha mulai masuk ke Jawa Tengah bahkan juga masuk ke kalangan istana. Akibatnya, sebagian keturunan Syailendra menganut agama Buddha.

Namun, setelah Raja Panangkaran wafat, Kerajaan ini terpecah menjadi dua. Sebagian keturunan Syailendra yang menganut agama Hindu mendirikan kerajaan Mataram di Jawa Tengah bagian utara. Mereka mulai mendirikan candi-candi Hindu, seperti kompleks Candi Dieng. Candi ini terdiri atas beberapa candi, yaitu: Candi Bima, Candi Arjuna, Candi Puntadewa, Candi Nakula, dan Candi Sadewa.

Baca Juga:  Pengertian dan Fungsi Hormon Auksin & Giberelin pada Tumbuhan

Sedangkan Keturunan Syailendra yang telah beragama Buddha mendirikan Kerajaan Mataram di Jawa Tengah bagian selatan dengan dipimpin oleh Raja Samaratungga. Mereka juga membangun candi-candi Buddha, seperti Candi Pawon, Candi Mendut, Candi Sari, Candi Kalasan, dan Candi Borobudur. Candi Borobudur yang tekenal hingga saat ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Samaratungga sekitar tahun 850 M.

Raja Samaratungga memiliki dua orang anak dari isteri – isteri yang berbeda. Mereka adalah Pramodhawardhani dan Balaputradewa. Pramodhawardhani kemudian menikah dengan Rakai Pikatan, seorang pengganti Rakai Garung yang berkuasa di Jawa Tengah bagian utara.

Sedangkan Balaputradewa yang merupakan hasil perkawinan Raja Samaratungga dengan seorang puteri dari Kerajaan Sriwijaya, memerintah di Jawa Tengah bagian selatan pada tahun 833-856 Masehi.

Namun, setelah Raja Samaratungga meninggal, kedudukannya digantikan oleh Balaputradewa. Akibat penunjukan Balaputradewa sebagai pengganti raja, terjadilah perang saudara antara Pramodhawardhani dengan suaminya (Rakai Pikatan) dan Balaputradewa.

Baca Juga:  Jenis Pergeseran Makna dan Penjelasannya Masing-Masing

Pada akhirnya Rakai Pikatan berhasil mengusir Balaputradewa. Balaputradewa yang kalah melarikan diri dan bersembunyi di kerajaan Sriwijaya. Pramodhawardhani dan Rakai Pikatan pun memerintah kerajaan Mataram dengan tenang.

Selama memerintah, Pramodhawardhani membuat Candi Sewu yang bercorak Buddha. Sementara itu, Rakai Pikatan mendirikan candi yang bercorak Hindu, dan dia juga membangun Candi Prambanan.

Setelah Rakai Pikatan meninggal, ada beberapa raja yang memimpin kerajaan ini, diantaranya adalah Rakai Kayuwangi, Rakai Watuhumalang, Rakai Watukura Dyah Balitung, Raja Daksa, Raja Tulodong, dan Raja Wawa. Keturunan Syailendra berhenti ketika pemerintahan Raja Wawa.

Setelah dinasti Syailendra habis, pada tahun 929 M ibukota Mataram Kuno dipindahkan ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok, berpusat di antara Gunung Semeru dan Gunung Wilis. Kemudian dia juga merubah nama Kerajaan Mataram menjadi Kerajaan Medang. Mpu Sindok adalah raja pertama dari Dinasti Isyana yang memerintah Kerajaan Medang sejak tahun 929 hingga 947 Masehi.

Setelah Mpu Sindok wafat, Raja yang menggantikannya adalah Sri Isyanatunggawijaya, Makutawangsawardhana, Dharmawangsa Teguh Anantawikramatunggadewa, dan Airlangga.

Baca Juga:  Pengertian, Fungsi Jaringan Sklerenkim, dan Ciri-Ciri

Dengan meninggalnya Mpu Sindok, Kerajaan ini seakan – akan tenggelam dalam sejarah. Hal ini dikarenakan raja-raja penggantinya tidak mewariskan peninggalan – peninggalan sejarah.

Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno meninggalkan beberapa macam Prasasti dan Candi yang membuktikan keberadaan kerajaan ini. Berikut ini adalah prasasti dan candi peninggalan kerajaan Mataram Kuno.

Prasasti Canggal

Prasasti ini ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir di desa Canggall dalam bentuk Candrasangkala.

Prasasti Kalasan

Prasasti ini ditemukan di desa Kalasan Yogyakarta berangka tahun 778 M. Prasasti Kalasan ditulis menggunakan huruf Pranagari dan bahasa Sansekerta

Prasasti Mantyasih

Prasasti ini ditemukan di Mantyasih Kedu, Jateng berangka tahun 907 M. Prasasti ini ditulis dengan menggunakan bahasa Jawa Kuno.

Prasasti Klurak

Prasasti ini ditemukan di desa Prambanan pada tahun 782 M. Prasasti ini ditulis menggunakan huruf Pranagari dan bahasa Sansekerta.

Candi

Selain prasasti, kerajaan Mataram Kuno juga memiliki peninggalan – peninggalan yang berupa candi, seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Mendut, Candi Plaosan, Candi Sambi Sari, dan lain – lain.