Penjelasan Klasifikasi Porifera Lengkap

Penjelasan Klasifikasi Porifera Lengkap – Sekilas jika kita melihat porifera kita tidak akan percaya bahwa porifera merupakan anggota kingdom animalia. Hal ini dikarenakan porifera memiliki bentuk dan struktur yang tidak seperti hewan pada umumnya. Tubuh porifera yang keras dan sesil ini membuat porifera lebih terlihat sebagai batu karang yang menghiasi lautan, menjadi habitat bagi biota laut lainnya. Namun, porifera adalah hewan. Berikut penjelasannya.

Kata porifera berasal dari bahasa yunani, porus yang berarti pori dan ferre artinya mengandung, sehingga kata porifera memiliki arti memiliki pori. Pada sisi tubuh porifera akan ditemukan banyak pori, sehingga porifera juga sering disebut spons. Banyak yang mengira jika porifera adalah tumbuhan atau batu, hal ini karena tubuhnya yang menempel di dasar perairan. Porifera merupkan anggota kingdom animalia yang tak bertulang belakang (avertebrata). Berdasarkan penemuan, porifera dipercaya sebagai penghubung antara nenekmoyang animalia (protozoa) menjadi kelompok hewan yang kompleks. Adapun karakter / ciri pada porifera yang menyebabkan porifera digolongnya ke dalam hewan yaitu:

1. Tersusun Atas Banyak Sel (Multiseluler)

Tubuh porifera, tersusun atas banyak sel yang membentuk dua lapisan (lapisan luar/epidermis dan lapisan dalam). Lapisan luar dengan lapisan dalam dipisahkan oleh mesohil yang bergelatin. Daerah ini banyak ditemukan jenis sel yang bergerak bebas menggunakan psedopodia (amoebosit). Porifera merupakan anggota hewan yanng paling primitif (sederhana). Sel – selnya membentuk suatu lapisan tubuh yang merupakan bukan jaringan sejati. Hal ini karena pada porifera belum terjadi spesialisasi seperti pada hewan lainnya. Sel – sel yang menyusun tubuh porifera antara lain:

a. Koanosit (sel collar)

Merupakan sel yang terdapat pada lapisan dalam pada tubuh spons (spongosol). Sel ini memiliki penjuluran – penjuluran panjang yang membentuk sistem collar dan pa bagian tengahnya terdapat flagel. Dengan struktur yang demikian, membuat koanosit mampu menciptakan semacam pompa air yang masuk ke dalam tubuh spons yang merupakan pemakan suspensi (makanan terlarut bersama air). Dengan gerakan flagel tersebut, air yang mengandung makanan akan memasuki tubuh porifera. Sementara collar akan menyaring makanan dari air yang masuk. Kemudian makanan akan difagosit oleh sel koanosit dan diteruskan ke sel amoebosit di daerah mesohil.

Baca Juga:  Bagian-Bagian Mata Dan Fungsinya Secara Lengkap

b. Amoebosit (Arkheosit)

Berfungsi sebagai sel percernaan dan transportasi nutrisi. Makanan yang telah ditangkap oleh sel koanosit kemudian ditangkap oleh amoebosit untuk dicerna dan diedarkan ke seluruh sel penyusun tubuh porifera. Sel – sel amoebosit merupakan sel yang bergerak dengan pseudopodia. Sel – sel ini terletak di daerah mesohil porifera. Selain itu, amoebosit berfungsi mengatur reproduksi pada porifera. Sel – sel amoebosit memprosuksi serat rangka (spikula) yang keras, dalam bentuk duri, kolagen (spongin), atau silika (kalsium karbonat).

c. Pinacosit, merupakan sel yang menyusun lapisan epidermis porifera.

d. Osteosit (porosit), sel yang berbentuk seperti tabung yang bagian tengahnya berlubang, berfungsi sebagai tempat masuknya air atau zat terlarut lainnya.

e. Spongosoel, rongga tubuh pada spons.

f. Osculum, tempat keluarnya air beserta sel gamet atau larva atau limba metabolisme dari tubuh spons.

2. Heterotrof

Seperti pada hewan lainnya, spons tak mampu membuat makanannya sendiri. Spons merupakan pemakan suspensi yakni sumber makanannya berasal dari organisme lain yang terbawa arus air yang masuk ke dalam tubuhnya. Aliran pencernaan pada spos yaitu makanan masuk bersama air melalui pori-pori tubuh, kemudian di rongga tubuhnya (spongosol) terdapat sel koanosit yang akan memfilter makanan. Sel – sel koanosit menyaring dan memakan makanan kemudian akan diteruskan ke sel amoebosit untuk dicerna dan diedarkan ke seluruh sel tubuh spons. Sementara limbah beserta ampas yang tidak tersaring akan dibuang melalui oskulum.

Baca Juga:  6 Langkah Pengindraan Jauh

3. Habitat: Perairan

Spons dapat ditemukan di perairan air tawar ataupun air asin. Dari kurang lebih 9000 spesies spons, hanya 100 spesies yang baru ditemukan hidup di air tawar. Sementara sisanya merupakan organisme laut.

4. Reproduksi: Seksual Dan Aseksual

Perkembangbiakan pada porifera dapat dilakukan baik secara seksual maupun secara aseksual. Individu baru yang terbentuk melalui perkembngan secara aseksual terjadi dari potongan (fragmen) induknya. Sementara dengan cara seksual (perkawinan) yakni melibatkan sel gamet antar spons. spons merupakan hewan hermaprodit, artinya memiliki gamet jantan maupun betina dalam satu tubuh. Perkawinan terjadi secara silang (antara spons yang sejenis). Sel gamet dihasilkan dari sel koanosit atau amoebosit. Sel telur berada si mesohil, sementara sel sperma terbawa arus air dan membuahi sel telur yang terjadi di mesohil. Setelah itu terbentuk zigot yang berkembang di mesohil. Setelah itu, zigot berkembang menjadi larva berflagela yang keluar dari tubuh induk. Larva akan berenang jauh dari induknya dan menempel pada suatu substrat yang cocok.

5. Sesil (menempel pada substrat)

Yang membuat orang – orang menjadi terkecoh mengenai porifera yang tergolong hewan adalah tubuhnya yang menempel pada suatu substrat di dasar perairan (sesil). Spons merupakan hewan pasif yang mengandalkan arus air untuk berbagai aktivitas metabolismenya (makan, ekskresi, dan reprosuksi). Tubuh spons membentuk saluran air.

Baca Juga:  Struktur Dan Ciri Bahasa Teks Laporan Hasil Observasi

Berdasarkan bentuknya, saluran air pada spons dibedakan menjadi tiga macam:

a. Ascon, tipe saluran air dimana pori pada ostium langsung menuju spongosol. Contoh pada Leucoselonia sp.
b. Sycon, tipe saluran air dimana ostium tidak langsung menuju spongosol, tetapi terdapat saluran sebelum spongosol yang disebut canal yang terdapat sel – sel coanosit. Saluran canal ini kemudian mengalirkan air ke spongosol lalu osculum. Contoh: Scypha sp.
c. Leucon, merupakan tipe saluran yang paling kompleks. Terdapat banyak canal – canal air yang menghubungkan pori – pori ke canal yang berkoanosit kemudian menuju spongosol. Contoh: Spongila sp.

KLASIFIKASI

Berdasarkan bahan penyusun spikulanya, porifera dikelompokkan menjadi tiga kelas yaitu:

1. Kelas Calcarea

Ciri khas pada anggota kelompok ini yaitu tubuhnya memiliki spikula yang tersusun atas kalsium karbonat. Ukuran tubuhnya kurang dari 15 cm dan memiliki bentuk yang tidak beraturan. Spesies dari kelas ini biasa hidup diperairan dangkal. Contoh dari kelas ini yaitu Sycon sp., Clathrina sp.

2. Kelas Demospongiae

Anggota kelas ini memiliki spikula yang tersusun oleh spongin atau silikon (SiO2) atau campuran keduanya. Anggota kelas ini merupakan paling banyak diantara kelompok spons lainya (90% spesies spons berasal dari kelas ini). Contoh: Sponila sp., Euspongia sp.

3. Kelas Hexactinellida

Anggota kelas ini memiliki silika yang tersusun atas zat kersik (silika). Anggota kelas ini pada umumnya ditemukan pada laut dalam (200 – 1000m) yang menempel pada substrat yang lembut. Memiliki bentuk sepertu cangkir, vas bunga, atau ceret. Contoh: Euplectella sp.