Pengertian Metagenesis dan Contohnya

Pengertian Metagenesis dan Contohnya – Reproduksi merupakan salah satu kemampuan yang dimiliki oleh makhluk hidup untuk mempertahankan kelestarian jenisnya. Reproduksi dapat terjadi secara seksual dan atau aseksual. Pada beberapa organisme hanya memiliki kemampuan bereproduksi secara aseksual saja atau seksual saja. Dan beberapa organisme mampu melakukan keduanya, namun tidak terjadi alur yang pasti. Artinya, jenis reproduksi tertentu lebih sering dilakukan dibanding cara lainnya. Pada beberapa organisme lainnya, terjadi pengaturan yang jelas antara fase seksual dan aseksual. Mekanisme ini dikenal dengan istilah metagenesis. Pada artikel kali ini akan diulas mengenai metagenesis pada beberapa organisme yang sering kita jumpai. Berikut uraian lengkapnya.

A. PENGERTIAN METAGENESIS

Metagensis adalah pergiliran keturunan yang dari fase aseksual ke fase seksual atau sebaliknya. Reproduksi makhluk hidup memang dapat terjadi baik secara seksual maupun aseksual. Namun, pada peristiwa metagenesis, terjadi siklus hidup dimana organisme tersebut akan menjalani fase seksual dan fase aseksual secara berkala. Tidak semua organisme mengalami siklus hidup yang demikian, hanya beberapa organisme ditemukan mengalami metagenesis yang teratur seperti pada tumbuhan lumut. Dalam setiap fase reproduksi dalam metagenesis akan menghasilkan organisme yang berbeda. Misalnya, tumbuhan lumut merupakan organisme seksual, hasil reproduksinya akan menghasilkan organisme lain yaitu embrio yang menghasilkan spora (individu baru yang terbentuk melalui reproduksi aseksual). Pada organisme, fase reproduksi antara seksual dengan aseksual mungkin akan berbeda waktunya. Beberapa organisme memiliki masa dominan dalam fase seksual, dan begitu jua sebaliknya.

Baca Juga:  Pengertian dan 6 Komponen Penginderaan Jauh

B. CONTOH METAGENESIS

1) Metagenesis Pada Tumbuhan

a. Metagenesis tumbuhan lumut (Bryophyta)

Tumbuhan lumut merupakan kelompok tumbuhan tingkat tinggi yang paling primitif. Struktur tubuhnya yang masih sangat sederhana, disertai juga dengan sistem reproduksinya. Mungkin sebagian besar kita tak pernah mengamati pergiliran keturunan pada lumut dari fase sporofit (fase aseksual) ke fase gametofit (fase seksual). Tumbuhan lumut yang kita lihat di tempat – tempat lembab merupakan dalam fase gametofit atau fase seksual. Fase gametofit merupakan fase tumbuhan menghasilkan sel- sel gamet jantan dan betina. Sementara fase sporofit merupakan fase tumbuhan menghasilkan spora. Fase gametofit pada tumbuhan lumut lebih dominan dibanding fase sporofit. Sel gamet jantan (sperma) tumbuhan lumut dihasilkan oleh anteridium, sementara sel ovum (gamet betina) dihasilkan oleh arkegonium. Baik anteridium dan arkegonium terletak di ketiak daun atau tempat yang berlainan. Sel sperma tumbuhan lumut memiliki ekor dan memerlukan lingkungan yang berair dan lembab untuk memudahkan pergerakkannya. Oleh karena itu, habitat tumbuhan lumut ialah lingkungan yang lembab dan berair hal ini untuk memudahkan fase reproduksinya. Sel sperma akan membuahi ovum dan membentuk zigot yang akan berkembang menjadi embrio yang akan menghasilkan spora dalam kotak spora (sporangium). Ketika spora matang, maka sporangium akan pecah, sehingga spora akan berterbangan terbawa angin sampai di tempat yang sesuai dan akan berkecambah menjadi protonema yang akan menjadi tumbuhan lumut. Dan siklus ini akan terus berulang dalam fase hidup tumbuhan lumut.

Baca Juga:  Pengertian & Macam Macam Paragraf Lengkap

b. Metagenesis tumbuhan paku

Tumbuhan paku memiliki tingkat yang lebih tinggi dibanding tumbuhan lumut. Hal ini dilihat dari struktur yang dimiliki kedua tumbuhan tersebut. Pergiliran keturunan antara fase seksual ke fase aseksual juga terjadi pada tumbuhan paku. Jika tumbuhan lumut merupakan tumbuhan gametofit, pada tumbuhan paku justru sebaliknya. Tumbuhan paku yang tumbuh menempel di lingkungan yang lembab merupakan tumbuhan sporofit atau tumbuhan yang menghasilkan spora. Jika kamu pernah mengamati tumbuhan paku, maka kamu pasti akan menemukan bintik – bintik coklat di bawah daun – daun tumbuhan paku. Fase gametofit pada tumbuhan paku berlangsung sangat singkat. Sementara fase sporofit merupakan fase yang dominan. Tidak semua daun tumbuhan paku mengandung spora pada bagian permukaan bawah. Daun yang memiliki spora disebut sporofil, sementara daun yang tidak memiliki spora berfungsi untuk berfotosintesis disebut tropofil. Namun ada daun fotosintesis memiliki spora dibawahnya sehingga disebut troposporofil. Spora – spora tumbuhan paku terbungkus dalam sporangium. Indusium adalah jaringan terluar yang melindungi sporangium – sporangium. Ketika spora matang, maka lapisan pelindung akan pecah sehingga membebaskan spora. Tumbuhan paku memiliki habitat yang sama dengan tumbuhan lumut. Ketika spora jatuh ditempat yang sesuai yaitu lembab, maka spora akan berkecambah menjadi protalium yang merupakan fase gametofit tumbuhan paku. Protalium akan menghasilkan sel – sel gamet, jantan dan betina. Fertilisasi antara sel gamet jantan dan betina akan menghasilkan zigot yang akan berkembang menjadi tumbuhan paku muda. Tumbuhan paku yang terbentuk ini akan kembali menghasilkan spora – spora, mengulagi siklus hidup dari tumbuhan paku.

Baca Juga:  Pengertian & 23 Contoh Kalimat Definisi

2) Metagenesis pada hewan

Pada hewan tingkat rendah terjadi pula pergiliran keturunan dari fase seksual ke fase aseksual. Adalah kelompok coelenterata (hewan berongga), yaitu seperti pada ubur – ubur dan obelia mengalami fase kehidupan yang menghasilkan individu – individu dengan siklus aseksual dan seksual. Ubur – ubur yang kita lihat merupakan dalam fase gametofit atau fase menghasilkan sel gamet. Ubur – ubur hanya akan menghasilkan satu jenis sel gamet, artinya terdapat ubur – ubur jantan dan ubur – ubur betina. Ketika sel sperma membuahi sel ovum, maka akan terbentuk zigot yang akan berkembang menjadi larva berflagel. Larva ubur – ubur akan mencari tempat yang cocok untuk berkembang lebih lanjut. Ketika larva berflagel ini menemukan tempat yang cocok maka larva akan menempel di dasar perairan (sesil) dan tumbuh dan berkembang membentuk polip, yang merupakan fase aseksual. Fase ini ditandai dengan bentuk seperti pohon yang bercabang – cabang. Tiap – tiap batang akan memiliki polip yang akan membentuk ubur – ubur.