Pengertian, Macam-Macam Alur, dan Contohnya

Pengertian, Macam-Macam Alur, dan Contohnya – Pada artikel lalu kita telah mempelajari tentang cerpen beserta unsur-unsur yang menjadi kesatuan di dalamnya. Unsur-unsur itu adalah unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Pada artikel ini masih berkaitan dengan yang telah kita pelajari di artikel sebelumnya tentang unsur instrinsik. Unsur instrinsik terdiri atas tema, alur / plot, penokohan, setting atau latar, sudut pandang, amanat, dan gaya pencitraan. Kali ini kita akan membahas secara ekslusif tentang pengertian, contoh, dan macam-macam alur.

A. Pengertian Alur / Plot

Dalam sebuah karya sastra seperi cerpen dan novel terdapat sebuah unsur yang membangun sehingga cerita tersebut memiliki arah yang berkesinambungan. Unsur tersebut terdapat dalam unsur intrinsik yakni alur / plot. Menurut Aminuddin (2004: 83) Alur / plot adalah kesinambungan dari sebuah jalan cerita. Urutan cerita dapat tersusun secara sistematis atas urutan waktu, peristiwa / kejadian dari sebab dan akibat. Alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita. Alur / plot tersusun atas awalan kemudian diteruskan dengan konflik / masalah yang merupakan klimaks dari cerita, selanjutnya diakhiri oleh akhiran (ending) atau penyelesaian masalah.

B. Macam-Macam Alur

Alur dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam berdasarkan urutan kronologisnya yakni alur maju, alur mundur, dan alur campuran. Pembahasannya sebagai berikut!

1. Alur Maju

Alur maju adalah jalan cerita yang menyajikan urutan yang dimulai dari tahap perkenalan menuju tahap penyelesaian secara sistematis dan tidak mengacak. Alur maju juga biasa disebut dengan alur progresif. Contoh :

Keputusan Setengah Hati

Aku tegak di atas panggung aula madrasah negeri setingkat SMP sambil mengguncang-guncang telapak tanganku, Pak Sikumbang, Kepala Sekolahku memberi selamat karena nilai ujianku termasuk sepuluh yang tertinggi di Kabupaten Agam. Tepuk tangan murid , orang tua dan guru riuh mengepung aula. Muka dan kupingku bersemu merah tai jantungku melonjak-lonjak girang. Aku tersenyum malu-malu ketika Pak Sikumbang menyorongkan mik kle mulutku. Dia menunggu sambil menunduk aku paksakan bicara. Yang keluar dari kerongkonganku Cuma bisikan lirih yang bergetar karena gugup, “Emmm… terima kasih banyak Pak… Itu saja…” Suaraku layu tercekat. Tanganku dingin.

Baca Juga:  Berbagai Contoh Kalimat Ambigu & Definisi Lengkap

Nilaiku adalah tiket utama untuk mendaftar ke SMA terbaik di Bukittinggi. Tiga tahun aku ikuti perintah Amak belajar di madrasah tsanawitah, sekarang waktunya aku menjadi seperti orang umumnya, masuk jalur non agama – SMA. Alangkah bangganya kalau bisa bilang saya anak SMA Bukittinggi. (A. Fuadi, 2009 : 5)

2. Alur Mundur

Alur mundur merupakan proses jalan cerita yang tidak berurutan. Pengarang menuliskan cerita dengan diawali dengan konflik, selanjunya dengan penyelesaian konflik, kemudian diakhiri dengan menceritakan kembali latar belakang konflik tersebut. Contoh :

Kampus Mengharu Biru

Siang itu terjadi kemacetan luar biasa di sepanjang jalan Z.A. Abidin Pagar Alam Bandar Lampung. Aku melihat kerumunan yang terdiri dari masa, polisi, dan petugas ambulan. Kerumunan itu semakin padat oelh ramainya warga yang penasaran ingin melihat. Aku meminggirkan sepeda motorku lalu berjalan perlahan mendekati kerumunan itu. Aku masuk ke selah-selah kerumunan dan mendongakkan kepalaku tinggi-tinggi di sela-sela ramainya tubuh manusia. Aku terkejut, Ternyata Frangky teman kuliahku sedang mengerang kesakitan di pusat kerumunan itu. Kaki kanannya berdarah, hampir sebagian besar tubuhnya lebam dan lecert-lecet. Ia tak sendiri, ada bersamanya rekan-rekan geng motor yang merupakan anggota komunitasnya. Dengan sigap aku ikut menggotongnya ke mobil ambulan bersama petugas rumah sakit. “Tolong dia pak, dia teman saya.”Kataku kepada salah satu petugas rumah sakit itu.

Baca Juga:  Contoh Teks Laporan Perjalanan Wisata Ke TMII Secara Singkat

Beberapa jam lalu aku dan Frangky berada di kampus. Kami mengobrol banyak hal yang berujung pada ajakannya untuk ikut dalam touring komuntas geng motornya. “Ayolah Bud, ikut aku keliling-keliling naik motor, jalan-jalan.” Ajaknya. “Boleh saja, tapi kan kita masih banyak tugas kuliah Frang…, besok-besok aja hari sabtu atau minggu. Kan kuliah kita libur.”jawabku. “Gak apa-apalah, Cuma tugas kuliah kan? Sesekali boleh lah nggak ngerjain. Ayolah ikut.” Rayu Frangky. “Aku mau, tapi akhir oekan ya… dan jangan kebut-kebutan. Aku masih sayang nyawaku soalnya.” Jawabku. “Ha…ha…ha.” Frangky tertawa tak menanggapi. Setelah obrolan tadi kami berpisah, aku hendak pulang dan mengerjakan tugas kuliah, sedangkan Frangky pergi bersama teman-teman komunitas motornya.

3. Alur Campuran

Alur Campuran merupakan jenis kombinasi / gabungan dari alur maju dan alur mundur. Pengarang menuliskan cerita secara berurutan, selanjutnya menyisipkan kembali cerita di masa lalu. Alur ini terbilang cukup rumit untuk dipahami dan membutuhkan keterampilan khusus untuk menuliskan cerita serta memahaminya.

Contoh:

Impian di Atas Langit

Aku bergegas berjalan ke teras untuk menemuinya. Ia adalah seorang yang kukagumi. Nasihat-nasihatnya selalu menjadi alasan kuatku untuk terus berprestasi di bidang karate. Aku sangat menyukai karate, dan ia adalah guru sekaligus teman separing yang handal untukku. Dialah paman Andrean Supandera. Master karate terhebat yang pernah ku temui di alam semesta ini. “Assalamualaikum,” Suara lantang itu terdengar khas di telingaku. Aku bergegas membukakan pintu depan. “Waalaikumsalam, Alhamdulillah akhirnya Om mau main ke rumah saya.” Sambutku. “Wah, rumahmu bagus ya. Sederhana tapi nyaman.” Ehe…he, duduk om…, mau masuk atau di sini saja?”. Tanyaku. “Duduk di teras saja, kita ngobrol-ngobrol. Gimana jadwal kompetisimu? Sudah dekat?” tanyanya. Kami pun mengobrol seputar kegiatan karateku dengan ditemani es teh manis dan kue lapis legit kesukaanku.

Baca Juga:  Pengertian Unsur Instrinsik Novel dan Macam-Macamnya

Kira-kira setahun lalu aku bertemu dengan Om Andre di pusat latihan karate kota Bandar Lampung. Kami berkenalan setelah beliau melihatku separing dengan rekan latihanku. Ia memuji gerakan-gerakanku yang lembut namun mematikan, ia bahkan memprediksikan bahwa aku akan menjadi atlet profesional di bidang karate. Sejak saat itu, kami semakin akrab seakan tidak ada jarak usia diantara kami. Beliau sudah seperti paman bagiku. Ia mengajari banyak hal tentang karate yang sebenarnya syarat akan pelajaran hidup. Dialah yang meledakkan semangat dengan bumbu-bumbu motivasi dahsyat miliknya. Sehingga aku bisa mendapatkan prestasi yang lumayan baik di bidang karate. Selain itu, nilai akademikku juga tidak kalah dengan teman-teman sekelasku. Aku termasuk 5 besar bintang kelas di sekolah, dan tentunya aku memiliki nilai tambah yakni prestasiku di bidang karate.

Setelah asyik mengobrol, om andre hendak berpamitan pulang. Beliau mengatakan suatu hal yang tak pernah ku duga sebelumnya. Ia memberitahukan bahwa dirinya akan pergi ke Jepang untuk menghadiri acara federasi karate deluruh dunia. Om andre menjadi salah satu dari 10 delegasi Indonesia untuk menghadiri acara yang hebat itu. Aku semakin kagum kepada beliau. Aku berjanji aku akan menjadi kuat dan sehebat beliau.

Penjelasan dan contoh di atas merupakan bahasan materi dari pengertian, contoh, dan macam-macam alur. Semoga bisa menjadi panduan yang baik dalam pembelajaran khususnya menulis cerita pendek yang berkaitan dengan materi di atas.

Sumber:
A. Fuadi, 2009. Negeri 5 Menara. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
http://www.kelasindonesia.com/2015/04/pengertian-macam-macam-alur-dan-contohnya.html