Pengertian dan 2 Contoh Karangan bebas (Tentang Liburan Sekolah)

Pengertian dan 2 Contoh Karangan bebas (Tentang Liburan Sekolah) – Dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, seringkali guru kita memberikan tugas / PR tentang karangan bebas. Sedikit banyak tentang karangan juga mungkin sudah teman-teman pelajari di sekolah. Pada artikel ini kita akan mengulas tentang karangan bebas tentang liburan sekolah beserta contohnya.

Karangan bebas adalah sebuah karya tulis yang tidak terdapat aturan khusus yang mengikat dalam penulisannya. Karangan bebas tidak sama seperti karya sastra puisi dan pantun yang terdapat syarat khusus dalam penulisannya. Karangan bebas juga merupakan hasil buah pikiran seorang penulis untuk mengungkapkan ide atau gagasan kepada pembaca. Karangan bebas juga disebut dengan prosa.

Selanjutnya kita akan belajar dengan contoh karangan bebas tentang liburan sekolah sebagai berikut!

Contoh 1 :

Berkunjung ke Rumah Nenek di Sukabumi

Pada saat liburan akhir semester di bulan April lalu aku dan keluargaku pergi ke desa Sukamakmur kecamatan Sukabumi Jawa Barat. Kami sekeluarga berencana mengunjungi nenek beserta keluarga besar di sana. Aku sangat gembira bisa mengunjungi mereka, bukan hanya nenek saja, paman dan bibiku serta seluruh keluarga besar kami tinggal di desa itu. Liburan kali ini aku bisa bersilaturahmi dengan mereka semua. Alangkah senangnya hatiku.

Setibanya di desa Sukamakmur, aku langsung menemui nenek. Kucium tangan kanannya dengan penuh rasa hormat. Begitupun dengan nenek, beliau menciumi pipiku dengan penuh rasa sayang. Katanya aku tambah tinggi dan gemuk. Aku senang sekali melihat nenek masih segar dan sehat di usianya yang tidak lagi muda. Kupandagi wajah nenek, terlihat guratan-guratan yang menunjukkan sisa-sisa kecantikan di masa mudanya. Nenek sangat baik dan tidak pernah marah padaku. Aku sangat menyayangi nenek.

Baca Juga:  Pengertian, Contoh Karangan Persuasi, dan Ciri – Ciri

Di desa sukamakmur tak hanya rumah nenek yang kukunjungi. Aku dan keluargaku juga mengunjungi kediaman pamanku mang didin, adik dari ayahku. Dia sangat ramah dan periang. Aku disuguhinya buah durian dan mangga. Kata beliau kalau aku mau lagi durian dan mangga, beliau akan mengajakku ke kebunnya untuk mengambil buah-buahan tersebut. Ku sangat senang dengan ajakan pamanku yang baik hatinya ini.

Setelah beberapa waktu berlalu aku teringat tentang ajakan paman barusan yang ingin mengajakku ke kebun miliknya. Aku pun merengek minta diajak ke kebun durian milik paman. Paman dengan senang hati menuruti permintaanku. Tak jauh dari rumah paman, kebun durian sudah terlihat dan tidak memerlukan waktu yang lama bagi kami berdua untuk sampai di sana. Kami membawa sedikit perbekalan untuk makan di kebun.

Setibanya di kebun, paman mengajakku untuk beristirahat sejenak di sebuah pondok kecil milik paman. Aku menurut. Tak lama setelah kami duduk, tiba-tiba terdengar cukup keras suara sesuatu jatuh dari pohon. Aku dan paman bergegas mendatangi sumber suara jatuh tadi. Terkehut bukan main aku melihat sesuatu yang baru saja jatuh, sesuatu yang begitu kusukai yaitu buah durian. Buah durian itu berukuran cukup besar. Aku melompat kegirangan, paman tersenyum melihat kegembiraanku. Kami pun menyantap buah durian besar itu berdua.

Baca Juga:  Contoh Karangan Narasi Pendek dan Panjang Terbaru

Beberapa saat setelahnya, aku dan paman mendengar suara benda jatuh lagi. Kami berdua menduga hal yang sama, yakni sebuah durian besar lagi. Kami beregegas menuju sumber suara jatuh, dan benar adanya, dua buah durian besar tergeletak tepat di depan kami. Aku membawa satu buah durian, dan satunya lagi dibawa oleh paman. Kedua buah durian itu kami bawa pulang untuk disantap bersama keluarga besar.

Selama dua minggu aku berada di desa sukamakmur, aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa bisa berkumpul bersama nenek dan keluarga besar. Tak terasa waktu liburan sekolah akan segera habis dan waktunya untuk kembali bersekolah. Aku berpamitan dengan nenek dan keluarga besar, mereka melepas kepergianku, ayah, dan ibu dengan isak tangis haru. Kalau liburan datang lagi, aku akan datang ke sini. Gumamku dalam hati.

Contoh 2 :

Asyiknya Ikut Sanlat (Pesantren Kilat)

Pada saat liburan sekolah kemarin, aku dan teman-temanku mengisinya dengan hal yang positif dan bermanfaat. Aku, Andi, Aris, Rahman, dan Ahmad berencana mengikuti acara pesantreen kilat yang diadakan oleh dinas kementrian agama setempat. Acara itu berlangsung selama tiga hari bertempet di masjid Baiturrahman. Kami berlima sangat bersemangat mengikuti acara itu. Selain itu, kami juga ingin lebih banyak belajar tentang ilmu agama. Aku rasa ini adalah saat yang tepat untuk mengisi kekosongan agenda kami pasca ujian semester.

Di hari pertama pesantren kilat diadakan, kami berlima beserta ratusan anak lainnya mengikuti pengarahan dari panitia sanlat (pesantren kilat). Kami mengikutinya dengan hikmat dan penuh keseriusan. Aku merasa sangat bangga berada diantara ratusan anak-anak yang rela menghabiskan liburannya di tempat ini, di agenda yang luar biasa ini. Aku membayangkan teman-temanku yang lain, yang memilih liburan ke pantai atau tempat wisata lain. Tentu tidaklah salah jika meluangkan waktu liburan untuk bertamasya. Tapi sesuatu yang kami lakukan di halaman masjid ini, sungguh sangatlah berbeda. Kami mengisi liburan dengan hal yang sama menyenagkannya dengan bertamasya, yakni mengikuti pesantren kilat. Menjadi santri walaupun hanya beberapa hari.

Baca Juga:  Jalannya Perang Dunia 2 dan Negara yang Terlibat Perang Dunia 2

Di agenda itu kami belajar banyak hal, tentang ilmu agama (mengaji dan lain-lain), tentang karakter muslim sejati, dan latihan kepemimpinan. Tidak hanya di dalam kelas, kami juga belajar di luar ruangan. Berbagai macam games out door kami mainkan di sini. Tentu games tersebut memuat unsur pengetahuan agama dan umum serta pendidikan karakter islam di dalamnya. Sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa dan tak terlupakan.

Diantara banyak kegiatan yang kami jalani, salah satu hal yang tidak terlupakan adalah kegiatan menginap bersama di aula masjid baiturrahan. Asyik sekali sensasi bermalam bersama ratusan anak-anak dari berbagai karakter dan latar belakang. Kami saling mengobrol dan bertukar cerita tentang sekolah masing-masing. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami dan banyak hal yang tak terlupakan di acara pesantren kilat.