Pembahasan Teori Pembentukan Bumi (Big Bang, Nebula, Kuiper, Tidal, Bintang Kembar)

Pembahasan Teori Pembentukan Bumi (Big Bang, Nebula, Kuiper, Tidal, Bintang Kembar) – Bumi, tempat tingal kita ini merupakan satu dari bagian juta planet yang ada di dalam galaksi bima sakti. Namun, dari beberapa planet yang mengililingi matahari sebagai inti tata surya, bumi adalah satu – satunya planet yang memiliki kehidupan di dalamnya.

Hal ini dikarenakan planet bumi mempunyai iklim yang cocok dan juga sumber penyokong kehidupan di dalamnya, sehingga manusia, tumbuhan, hewan, dan makhluk – makhluk hidup lain dapat tinggal di dalam bumi.

Namun, pernahkah terlintas di benak Anda, bagaimanakah proses awal pembentukan bumi hingga menjadi sebuah planet yang memiliki kehidupan ? Ada banyak sekali teori yang dikeluarkan oleh beberapa ahli yang menjelaskan proses tentang pembentukan bumi. Nah, artikel kali ini akan menyajikan beberapa teori yang cukup terkenal mengenai peroses terbentuknya bumi. Berikut adalah teori – teori dari para ahli tersebut:

1. Teori Ledakan Besar (Big Bang)

Teori Big Bang diperkenalkan oleh dua orang ilmuan yang bernama Gamow dan Alpher pada tahun 1948. Mereka berpendapat bahwa bumi dan alam semesta terbentuk akibat dari suatu ledakan yang amat sangat dahsyat yang diperkirakan berasal dari ledakan thermo nuklir.

Gamow dan Alpher menjelaskan bahwa secara teoritis dentuman atau ledakan tersebut menghasilkan energi (panas) yang sangat tinggi sehingga menyebabkan ekspansi materi. Ekspansi materi yaitu menjauhnya benda – benda langit, seperti bintang, planet dan sebangsa asteroid.

Baca Juga:  Batas-Batas, Bentang Alam Kawasan Negara Belanda, dan Ciri-Cirinya

Teori ini juga dijadikan sebagai hipotesis oleh ahli astronomi pada abad ke 20, Edwin Hubble. Dia mengatakan bahwa langit akan terus berkembang. Hipotesis tentang langit terus berkembang ini kemudian diperkuat kembali dengan hasil pengamatan oleh Edwin Hubble di Observatorium Mount Wilson, sehingga terbentuklah teori langit berekspansi.

Berdasarkan pengamatan melalaui teleskop ruang angkasa, diketahui bahwa bintang-bintang akan terus bergerak menjauh dari titik koordinat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa langit akan terus berkembang.

2. Teori Nebula

Teori kabut (nebula) dikeluarkan oleh Immanuel Kant (1755) serta Piere de Laplace (1796). Teori mereka berdua kemudian dikenal dengan “Teori Kabut Kant-Laplace”. Teori ini menyatakan bahwa pada awalnya ruang angkasa dipenuhi oleh gas yang sangat banyak. Kemudian gas – gas tersebut berkumpul menjadi satu sehingga membentuk sebuah kabut yang sangat besar (nebula).

Kabut tersebut memiliki gaya tarik – menarik yang sangat besar sehingga menyebabkan kabut berputar dengan sangat cepat. Perputaran yang sangat cepat ini mengakibatkan materi – materi pada bagian khatulistiwa terlempar ke luar dan terpisah dari kabut. Materi – materi yang terlempar tersebut kemudian membeku dan memadat hingga terbentuklah planet – planet dalam sistem tata surya. Sedangkan, bagian inti yang tidak ikut terlempar masih tetap berpijar dan menjadi pusat dari tata surya, yaitu matahari.

Baca Juga:  Pengertian & 31 Contoh Kalimat Majemuk Rapatan

3. Teori Pasang Surut Gas (Tidal)

Teori pasang surut gas ini dikeluarkan oleh James Jeans dan Harold Jeffreys pada tahun 1918. Teori ini menjelaskan bahwa pada awalnya ada sebuah bintang yang sangat besar dan memiliki massa yang sama mendekati matahari, ketika matahari masih berbentuk gas. Hal ini menyebabkan terjadinya fenomena pasang surut di dalam tubuh matahari.

Fenomena ini membentuk gelombang gunung raksasa pada matahari yang disebabkan gaya tarik oleh bintang yang mendekat tersebut. Gunung-gunung itu terus membesar sehingga membentuk semacam lidah pijar yang mengarah ke bintang. Kemudian Lidah pijar tersebut keluar dan mendekati bintang seolah – olah tertarik oleh bintang tersebut.

Kemudian, pada lidah pijar tersebut terjadi gas-gas yang merapat sehingga pecah dan berpencar. Material yang terpisah itu kemudian membentuk planet-planet, tetapi pada keadaan ini planet masih berupa gas yang kemudian mendekat dan berputar mengelilingi matahari. Pada proses inilah terjadi pendinginan sehingga planet – planet yang masih berupa gas tersebut menjadi padat. Sedangkan Bintang besar yang menarik bagian tubuh matahari tadi, menjauhi matahari kembali sehingga tidak mempengaruhi planet – planet yang telah terbentuk.

4. Teori Kuiper

Teori Kuiper diperkenalkan oleh seorang Astronom yang bernama Gerard P. Kuiper pada tahun 1905-1973. Ia menjelaskan bahwa alam semesta ini pada mulanya hanya berupa gas purba. Gas – gas yang tersebut kemudian memapat sehingga membentuk sebuah benda yang padat akibat dari gaya tarik antar molekul gas.
Sifat gas yang akan terus bergerak mengakibatkan benda yang telah terbentuk tersebut terus bergerak dan berputar sehingga menjadi pipih dan padat pada bagian tengahnya. Pada saat berputar, ada beberapa gumpalan kecil gas yang terlempar keluar sehingga menjadi cikal bakal planet. Sedangkan Gumpalan gas yang memadat di tengah inilah yang merupakan cikal bakal matahari.

Baca Juga:  Pengertian, Fungsi Jaringan Epitel, dan Macam-Macam Jaringan Epitel

Gesekan antar gas yang semakin memadat ini menimbulkan api sehingga mengusir kabut–kabut gas yang menyelimuti cikal bakal planet hingga akhirnya planet tersebut tidak terbungkus gas lagi. Sedangkan, planet yang letaknya jauh dari matahari kurang terpengaruh. Oleh karena itu, planet yang jauh dari matahari terlihat besar karena diliputi oleh kabut gas.

5. Hipotesis Bintang Kembar

Teori ini dinyatakan oleh seorang ahli astronomi Inggris yang bernama R.A. Lyttleton pada tahun 1930-an. R. A. Lyttleton menyatakan bahwa pada mulanya terdapat dua buah matahari kembar yang saling berputar mengelilingi satu sama lain. Kemudian salah satu bintang tersebut hancur karena tertabrak oleh sebuah bintang.

Matahari yang tertabrak tersebut hancur dan menjadi materi-materi kecil. Kemudian, serpihan – serpihan matahari yang hancur tersebut mengelilingi matahari yang masih utuh karena terperangkap oleh gaya grafitasi. Materi-materi kecil tersebut lalu mendingin dan menjadi planet – planet seperti saat ini.