Keanekaragaman Kelompok Sosial dalam Masyarakat Multikultural

Keanekaragaman Kelompok Sosial dalam Masyarakat Multikultural – Masyarakat multikultural adalah masyarakat yang beragam serta majemuk yang mempunyai banyak kebudayaan yang muncul yang diakibatkan oleh adanya aktivitas kegiatan dan pranata khusus. Kelompok sosial yang hadir akibat makin banyak dan kompleksnya aktivitas manusia dan banyaknya lembaga atau pranata sosial yang menjadi wadah bagi segala keterbutuhan dan aktivitasnya, telah menimbulkan keragaman kelompok sosial sebagai perwujudan dari masyarakat multikultural.

Keanekaragaman adalah suatu realitas sosial yang ada dan dialami oleh setiap individu masyarakat di segala generasi dan zaman. Keanekaragaman kelompok sosial terus berkembang dan tumbuh sehingga menjadi semakin kompleks dalam kehidupan masyarakat yang majemuk. Tentunya perkembangan sosial ini terlepas dari adanya perbedaan agama, suku, dan ras. Keanekaragaman kelompok sosial berlatarbelakang dari faktor kegiatan / aktivitas manusia yang makin banyak dan kompleks. Selain itu pranata sosial yang makin bervariasi guna pemenuhan berbagai macam kebutuhan manusia.

A. Masyarakat Majemuk

Masyarakat majemuk di negara Indonesia mempunyai potensi konflik yang cukup besar. Keragaman kelompok sosial yang ada pada masyarakat yang bersifat majemuk adalah salah satu ciri dari warga masyarakat Indonesia. Banyak diantara warga negara Indonesia yang belum sadar akan keragaman serta kemajemukan yang dibalik itu semua tersimpan potensi konflik yang bisa menjadi ancaman bagi kehidupan berbangsa serta bernegara jika kita tidak memiliki kepiawaian dalam mengelolanya.

Baca Juga:  Peran Nilai dalam Kehidupan Masyarakat

Pertemuan yang terjadi antara kelompok penduduk yang memiliki perbedaan latar belakang sosial budaya pada suatu tempat tentu akan berdampak terhadap suatu hal dalam kehidupan sosial. Gesekan-gesekan yang mungkin saja akan terjadi di antara warga masyarakat asli dan warga pendatang memiliki beberapa latar belakang diantaranya yakni sosial, budaya, dan agama yang tentu berbeda-beda. Gesekan sosial budaya itu berpotensi memunculkan konflik sosial. Apabila tidak ada upaya untuk memediasi kelompok yang bertikai atau mencarikan solusi terbaik terhadap keduanya tentu akan semakin berkembang konflik yang telah terjadi.

Gejala etnosentrisme yakni sebuah prasangka negatif serta perilaku diskriminatif antaretnik, yang memiliki hubungan terhadap adat istiadat, dapat menghambat interaksi dan juga pergaulan antaretnis. Gejala tersebut tentu tidak hanya terjadi pada masyarakat tradisional, namun juga dapat terjadi pada masyarakat modern yang berakibat pada semakin berkembangnya konflik dan ketegangan antara wargga masyarakat majemuk.

Koetjaraningrat mengemukakan bahwa interaksi hubungan antara etnik yang memiliki perbedaan adalah suatu kondisi / keadaan yang terdapat potensi konflik di dalamnya. Interaksi / hubungan antara warga amsyarakat yang memiliki perbedaan biasanya dilatarbelakangi oleh sikap prasangka terhadap etnik yang berlainan. Setiap etnik juga masih sangat terikat pada folkways diantara masing-masing individu masyarakat dan memiiki kecenderungan terhadap afiliasi identitas diri mereka sendiri yang berkaitan dengan etnis, agama, dan identitas lainnya.

Baca Juga:  Perkembangan Kelompok Sosial dalam Masyarakat Multikultural

Keterikatan etnis atas dasar norma / nilai budayanya dapat berakibat pada semakin

Kokohnya egoisme yang memiliki kecenderungan meremehkan kelompok lain diluar identitas dirinya.Potensi tersebut semakin lama semakin menguat dengan timbulnya kristalisasi etnik yang semakin menampakkan dinding pembatas antara identitas pribadi dengan identitas luar.

Renner menyatakan bahwa konflik etnis dalam suatu negara dapat terjadi dikarenakan pembagian terhadap suatu wilayah yang dilakukan oleh kolonialis tidak berimbang dengan segala kepentingan kultural serta konsekuensinya. Hal tersebut berakibat pada terpecah belahnya

Eksistensi berbagai negara yang bersifat multietnis mempunyai lima kemungkinan terjadinya model regulasi konflik etnis, yakni sebagai berikut!

a. Partisi ialah sebuah pembatasan secara tegas antara satu etnis dengan etnis yang lainnya.
b. Dominasi ialah peranan satu etnis terhadap etnis lain yang cenderung mengatur dan lain sebagainya dan berentuk sebuah kekerasan dan tindakan yang bersifat diskriminatif.
c. Asimilasi ialah suatu bentuk model regulasi konflik etnis secara halus dan lebih modern dibandingkan dengan model yang kedua yakni dominasi.
d. Konsolidasi ialah sebuah sistem yang mengakui adanya eksistensi dari tiap-tiap perbedaan yang ada dan mencoba untuk mengharmonisasikan segala bentuk perbedaan.
e. Akomodasi ialah sebuah bentuk pengakuan terhadap seluruh etnis namun tidak
mempunyai hubungan dengan berbagai hal yang bersifat politis. Model ini lebih tepat dikatakan sebuah sinkretisme yakni sebuah negara yang berupaya untuk mengakomodir dan mengapresiasikan berbagai perbedaan yang ada dan beranggapan bahwa semua etnis yang ada mempunyai posisi tawar yang sama serta dapat diperlakukan secara adil layaknya manusia pada umumnya.

Baca Juga:  Contoh Kalimat Tunggal dan Pengertiannya Adalah

Keharmonisan ialah sebuah tujuan yang tentu diinginkan oleh setiap warga masyarakat yang majemuk yang ada dalam kelompok tersebut. Kerukunan dalam hidup merupakan sebuah konsensus yang harus diperoleh tiap warga negara yang meliputi stabilitas ekonomi, kerukunan politik, dan serta harmonisasi sosial budaya.

Sumber :
Waluya, Bagja. 2009, Sosiologi Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat Untuk kela XI SMA dan MA, Jakarta, CV. PT. Setia Purna Inves.

    1. ahmad andrian May 8, 2016
      • Kakak Pintar May 19, 2016

    Add Your Comment