5 Perbedaan Prosa lama dengan Prosa Baru

5 Perbedaan Prosa lama dengan Prosa Baru – Berdasarkan pembabakannya, prosa dibagi menjadi dua, yaitu prosa lama dan prosa baru. Prosa lama adalah karya sastra yang belum mendapatkan pengaruh dari budaya asing. Prosa lama masih murni bersifat kedaerahan. Prosa lama kebanyakan diceritakan dari mulut ke mulut sehingga tidak ada yang berbentuk tulisan. Namun seiring dengan perkembangan jaman, banyak yang membuat bentuk tulisannya. Karena dahulu kala berawal dari lisan, terkadang kita menemukan versi cerita yang berbeda-beda dalam karya sastra prosa lama yang tertulis. Contoh dari prosa lama diantaranya berbentuk dongeng, hikayat, kisah, bidal, dan sejarah. Prosa baru adalah Karya sastra yang lahir seiring dengan perkembangan jaman. Selain itu, prosa baru sudah terpengaruh oleh budaya asing. Pengaruh tersebut masuk ke dalam isi, tema, hingga ke tujuan pembuatan prosa tersebut. Contoh dari prosa baru diantaranya berbentuk novel, cerpen, roman, esai, riwayat, kritik, resensi dan esai.

Baca Juga:  Contoh Resensi Novel 5 CM karya Dhonny Dhirgantoro

Perbedaan antara prosa lama dan baru meliputi aspek hal-hal sebagai berikut:

1. Istana Sentris Vs. Rakyat Sentris

Dari isi ceritanya, prosa lama banyak mengisahkan tentang kehidupan kerajaan yang disebut dengan istana sentris. Selain itu, tema tentang kepahlawanan, dan yang mengandung khayalan idak masuk akal juga termasuk dalam prosa lama. Sedangkan dalam prosa baru, kisah-kisah yang diangkat atau dibuat bersifat luas. Artinya, apapun dapat dijadikan cerita. Cerita bisa bersifat fiktif maupun realita atau kisah nyata. Meskipun ceritanya bersifat luas, tulisan dalam prosa baru bersifat rakyat sentries yang artinya ceritanya dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

2. Statis Vs. Dinamis

Prosa lama dikatakan statis karena sulit berkembang. Sementara itu, prosa baru dianggap dinamis karena mudah berkembang menyesuaikan jaman. Tujuan tersebut tampak dari tujuan penulisan prosa itu sendiri. Dalam prosa lama, karya sastra dibuat sebagai media hiburan rakyat. Sedangkan, dalam prosa baru, sudah muncul tujuan-tujuan komersil dalam pembuatan karya sastra. Prosa tidak hanya sebagai alat hiburan, tetapi juga untuk kepentingan pribadi yang bersifat komersil oleh si penulis karya.

Baca Juga:  Syarat Terjadinya Interaksi Sosial, Ciri-Ciri, dan Contohnya Adalah

3. Fantasi Vs. Realita

Cerita dalam prosa lama, selain bersifat istana sentries juga mengandung hal-hal yang bersifat khayalan atau imajinasi yang terkadang tidak masuk akal. Ketika mendengar cerita dalam prosa lama, kita turut berfantasi membayangkan kejadian-kejadian yang diceritakan dalam karya sastra tersebut. Sedangkan, dalam prosa baru kisah-kisah yang ditulis menjadi cerita dekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Cerita dalam prosa baru cenderung mengangkat realita.

4. Pengaruh Sastra Hindu & Arab Vs. Barat

Prosa lama banyak dipengaruhi oleh budaya-budaya kuta berkembang pada jaman itu yaitu budaya Hindu dan Arab. Dari segi bahasa, prosa lama banyak menggunakan bahasa sansekerta dan melayu yang tentunya juga dipengaruhi oleh budaya sastra hindu dan arab karena bahasa sansekerta dan melayu berasal dari budaya tersebut. Sedangkan prosa baru banyak mendapatkan budaya barat. Tidak hanya dari segi kiblat cerita, seperti halnya prosa lama, bahasa yang digunakan juga mendapatkan pengaruh. Tentunya pernah kita mendapati buku novel berjudul bahasa Inggris namun isi ceritanya berbahasa Indonesia.

Baca Juga:  Pengertian Jaringan Dasar (Parenkim) dan Fungsinya

5. Anonym Vs. Nama Pencipta

Karena diceritakan dar mulut ke mulut atau berbentuk lisan, banyak bentuk karya sastra dalam prosa lama tidak diketahui siapa penulis atau pengarangnya. Berbagai versi yang dibuat dalam bentuk tulisanpun tidak bisa dideteksi siapa yang mengarangnya. Sedangkan prosa baru yang berkembang di jaman ketika berbagai jenis alat tulis sudah ditemukan, para pengarang karya sastra tersebut mencantumkan nama mereka sebagai penciptanya. Bahkan di era modern saat ini, kita mengenal hukum hak cipta yang apabila ada yang mengakui, menjiplak, mengubah, memodifikasi, memperbanyak ata membuat salinan suatu karya sastra tanpa persetujuan sang pengarang, maka orang tersebut akan dikenai sanksi hukum.