5 Penyebab Konflik Sosial dalam Masyarakat

5 Penyebab Konflik Sosial dalam Masyarakat – Konflik seringkali terjadi yang bersumber dari multi kulturalnya bangsa Indonesia dimana terdapat banyak sekali perbedaan dan peselisihan di dalamnya. Indonesia dapat dikatakan sebagai negara yang mempunyai potensi konflik yang cukup tinggi. Konflik kerusuhan seringkali bergejolak di berbagai pelosok daerah. Belum lagi terdapat hasrat sebagian warga negara yang menginginkan lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang tentu menimbulkan konflik antar warga negara dengan negaranya.

DuBois dan Miley mengatakan bahwa sumber utama terjadinya konflik dalam masyarakat ialah terdapatnya ketidakadilan sosial, diskriminasi terhadap hak-hak individu dan kelompok, dan tidak terdapatnya penghargaan bagi keberagaman. Ketiga sebab yang menjadi faktor tersebut biasanya sangat erat kaitannya dengan sikap serta perilaku warga masyarakat yang diindikasikan dengan hal-hal berikut!

a. Rasisme

Rasisme adalah sebuah ideologi peryataan pembenaran terhadap dominasi satu komunitas / kelompok ras tertentu terhadap komunitas / kelompok yang lainnya. Bisa juga dikatakan bahwa rasisme adalah suatu perasaan superior yang amat berlebihan terhadap komunitas / kelompok sosial lainnya. Diskriminasi yang terjadi berkaitan dengan ras mempunyai tiga tingkatan yakni individual, organisasional, dan struktural.

Di tingkatan individu, diskriminasi ras dapat berbentuk sikap atau perilaku dugaan prasangka. Pada tingkatan organisasi diskriminasi terhadap ras terlihat ketika kebijakan, aturan, dan perundang-undangan hanya memberi keuntungan komunitas / kelompok tertentu. Jika ditinjau secara struktural, diskriminasi ras bisa diidentifikasi ketika sebuah lembaga sosial menyajikan batasan serta larangan terhadap lembaga yang lainnya.

Baca Juga:  Keadaan Penduduk, dan Potensi Ekonomi Kanada

b. Elitisme

Elitisme mengacu kepada afiliasi secara berlebihan terhadap strata atau kelas sosial yang didasarkan pada kekuasaan, kekayaan, dan juga prestise. Seorang individu atau komunitas / kelompok yang mempunyai kelas sosial yang tinggi selanjutnya dianggap memiliki hak dalam hal penentuan potensi warga masyarakat lain dalam mendapatkan sumber atau kesempatan yang terdapat dalam lingkungan masyarakat.

c. Gender

Gender ialah sebuah keyakinan mengenai jenis kelamin tertentu memiliki kelebihan yang jauh di atas jenis kelamin lainnya. Asumsi semacam ini seringkali mendapat dukungan oleh penafsiran atau pemaknaan (interpretation), subtradisi kultural serta aturan agama yang secara umum memiliki pandangan wanita memiliki derajad yang lebih rendah dari pada kaum laki-laki.

d. Usia

Usia merujuk kepada sikap negatif terhadap prosesi ketuaan. Prosesi ini meyakini bahwa segmentasi dan kategori usia tertentu mempunyai kedudukan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan segmentasi usia yang lainnya. Pada umumnya hal semacam ini diterapkan kepada seseorang yang telah lanjut usia.

Baca Juga:  Hubungan Antara Konflik dan Terjadinya Integrasi Sosial

e. Prasangka atau sikap-sikap negatif

Prasangka atau sikap negatif ini dilakukan terhadap seseorang yang mempunyai kecacatan. Seseorang yang mempunyai kecacatan berupa cacat tubuh atau mental seringkali dianggap memiliki perbedaan serta tidak bisa mengerjakan aktivitas dalam kehidupan sebagaimana layaknya seseorang yang normal. Seseorang yang menyandang cacat seringkali dianggap sebagai orang tidak memiliki kematangan secara sosial dan tidak bisa melakukan aktivitas layaknya orang yang normal.

Konflik sosial yang umumnya terjadi bisa melalui dua tahapan yang diawali dari tahapan disorganisasi atau keretakan dan terus berkelanjutan menuju tahapan disintegrasi. Munculnya gejala disorganisasi serta disintegrasi ialah sebagai akibat dari hal-hal berikut ini!

1. Tidak sejalannya mengenai pemahaman para anggota kelompok berkenaan dengan tujuan masyarakat yang pada mulanya menjadi kesepakatan bersama.
2. Norma sosial tidak banyak berpengaruh terhadap anggota masyarakat dalam upaya pencapaian tujuan yang telah mencapai kesepakatan.
3. Kaidah dalam komunitas yang dihayati oleh anggotanya saling berselisih antara satu dengan yang lainnya.
4. Hukuman / sanksi melemah bahkan tidak dilakukan dengan konsisten
5. Perilaku anggota kelompok bertentangan dengan norma-norma kelompok.

Baca Juga:  Penjelasan Unsur Ekstrinsik Cerpen (Lengkap)

Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa adanya konflik disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut!

a. Terdapatnya perbedaan prinsip dan perasaan antara individu dengan individu lainnya yang menjadi sebab munculnya konflik di antara mereka.
b. Terdapatnya perbedaan tentang kepribadian di antara anggota kelompok yang disebabkan oleh perbedaan latar belakang kultural.
c. Terdapatnya perbedaan tentang kepentingan serta tujuan di antara individu atau kelompok.
d. Terdapatnya perubahan sosial yang demikian cepat dalam masyarakat yang diiringi dengan adanya perubahan terhadap nilai atau sistem yang ada serta berlaku dalam lingkungan masyarakat.

Konflik memiliki fungsi bagi kehidupan masyarakat. Walaupun demikian, konflik lebih banyak memunculkan dampak negatif pada interaksi sosial. Konflik memiliki fungsi sebagai faktor positif yang memberi dampak konstruktif serta faktor negatif yang memiliki sifat destruktif bagi stabilitas sosial. Ditinjau dari sisi positifnya, konflik memiliki fungsi sebagai pemicu tumbuh kembangnya perdamaian sosial, hal tersebut dikarenakan konflik dalam pengertian lain mampu menumbuhkan solidaritas di antara anggota komunitas / kelompok tertentu.

Sumber :
Waluya, Bagja. 2009, Sosiologi Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat Untuk kela XI SMA dan MA, Jakarta, CV. PT. Setia Purna Inves.